
MENUNGGU TELEPONMU
__________________________________
(COPAS) IG:@muhibbin.abuya.al.maliki
Sebuah cerita yang langka di 'jaman logika'. Sebelum murid pulang dari
Makkah, Sang Guru berpesan kepadanya, "Tunggu telepon dariku setiap
Jumat Malam".
Tahun 80, sepulang Sang Murid mondok di Makkah, setiap Jumat ba'da isya', murid menunggu gurunya menelepon dari Makkah.
Bukan sekadar menjalankan perintah, namun ada kerinduan yang mendalam bak menunggu kekasihnya.
Karena saat itu murid tak memiliki telepon, maka disepakati untuk
numpang di kawan satu angkatan (di Makkah) yang terlebih dahulu memiliki
pesantren, bernama Daarus Salaam, Tambak Madu, Surabaya, asuhan Ustad
Muhyiddin Nur. Kala itu Murid masih menjadi 'dai keliling' di
kampus-kampus di Surabaya dan Malang.
Di tahun 1991, impian murid
untuk memiliki 'markas' dakwah mandiri, terwujud. Maka sejak saat itu,
Murid menetap di Pondok Pesantren Nurul Haromain, Pujon (118 km dari
Surabaya). Jarak tak menghalangi murid, yang kala itu sudah menjadi
seorang kyai, untuk menepati janji kepada gurunya, yaitu menunggu
telepon setiap Jumat malam di tempat yang sama.
Setiap Senin hingga Kamis, murid berada di Pujon dan Jum’at hingga minggu berada di Surabaya.
Sebelum peristiwa Lumpur Lapindo, Pujon - Surabaya hanya membutuhkan
waktu 2 hingga 3 jam saja. Namun pasca Lumpur Lapindo dan padatnya
kendaraan di sekitar Malang, sekali perjalanan membutuhkan waktu lebih
dari 5 jam. Murid dengan ringan berkata, "Saya cuma sekali seminggu PP
Surabaya Malang, sementara sopir atau banyak lagi orang yang setiap hari
PP Surabaya Malang, atau bahkan dalam sehari lebih dari satu kali".
Sebagai informasi, jarak Malang ke Pujon sekitar 31,6 km.
Tak
terasa kesetiaan murid dilalui hingga Sang Guru meninggal di tahun 2004.
Selama 24 tahun murid istiqomah menunggu telepon setiap Jumat malam,
tanpa mengeluh, tanpa alasan untuk absen.
Ternyata tak terhenti
dengan kematian Sang Guru, murid meneruskan adabnya kepada penerus,
yaitu anak dari Sang Guru. Hingga suatu saat anak dari Sang Guru
berkata, "Sudah cukup khidmatmu dengan menunggu teleponku. Jika aku akan
meneleponmu, akan kutelepon melalui hapemu".
Sang Murid adalah
K.H.M. Ihya Ulumiddin, lebih suka dipanggil Abi Ihya, pengasuh Pondok
Pesantren Nurul Haromain, Pujon. Sang Guru adalah Muhadits Prof. Dr.
Sayyid Muhammad bin Alawy Al Maliki Al Hasani, akrab dengan panggilan
'Abuya Al Maliki'. Mungkin saat menyimak cerita saya, terbesit
pertanyaan, "Kenapa Abi Ihya tidak 'request' pindah telepon, bahkan saat
sudah ada hape?". Justru disitulah 'adab' yang tinggi dari seorang
murid kepada guru tuntunannya. Abi Ihya tak 'mempertanyakan' perintah
dari gurunya. Beliau mentaati sebagai bentuk pengabdian dan ketaatan
seorang murid kepada gurunya. Beliau juga meyakini bahwa perintah dari
guru murobbinya memiliki makna tertentu.
Sang Murid adalah K.H.M.
Ihya Ulumiddin, lebih suka dipanggil Abi Ihya, pengasuh Pondok
Pesantren Nurul Haromain, Pujon. Sang Guru adalah Muhadits Prof. Dr.
Sayyid Muhammad bin Alawy Al Maliki Al Hasani, akrab dengan panggilan
'Abuya Al Maliki'. Mungkin saat menyimak cerita saya, terbesit
pertanyaan, "Kenapa Abi Ihya tidak 'request' pindah telepon, bahkan saat
sudah ada hape?". Justru disitulah 'adab' yang tinggi dari seorang
murid kepada guru tuntunannya. Abi Ihya tak 'mempertanyakan' perintah
dari gurunya. Beliau mentaati sebagai bentuk pengabdian dan ketaatan
seorang murid kepada gurunya. Beliau juga meyakini bahwa perintah dari
guru murobbinya memiliki makna tertentu.
8w
muhibbin.abuya.al.maliki's profile picture
muhibbin.abuya.al.maliki
Sebagian yang tak mengenal sosok Abuya, akan menganggap sebagai 'taklid
buta'. Namun yang mengenal nama harum tentang akhlaq serta keilmuan
Abuya, begitu juga sosok Abi Ihya, maka akan mengagumi kisah diatas.
Tak heran saat ini Abi Ihya telah 'mencetak' ratusan kyai (pemimpin
pondok pesantren) yang sebelumnya 'nyantrik' di Pujon. Abi Ihya juga
mendapat amanah menjadi pimpinan Hai’ah Ash-Shofwah Al-Malikiyyah, yaitu
organisasi alumni Abuya Al Maliki sedunia.
Suatu saat Abi Ihya
ditanya, "Amalan apa yang Abi lakukan, sehingga jaringan Nurul Haromain
bisa sebesar sekarang ini?". Abi menjawab dengan ringan, "Barokahnya
Abuya..". Mungkin benar bahwa doa dan ridlonya seorang guru akan membawa
kesuksesan pada muridnya.
Berpuluh tahun yang lalu Abi Ihya
pernah menjelaskan kutipan ulama, "Istiqomah lebih baik dari seribu
karomah (pemberian yang istimewa). Seseorang yang istiqomah, menjalankan
suatu amalan dalam waktu sempit dan luang, akan dikagetkan 'saat
perhitungan' nanti. Ternyata hal kecil yang ia lakukan secara istiqomah
melebihi amalan besarnya yang sesekali.
Kisah diatas akan semakin
jarang kita dengar. Logika dan kemajuan teknologi akan mengikis adab
dalam berguru dan silaturahim. Mengaji via youtube dilalukan sembari
buang air menjadi biasa. Mengucapkan bela sungkawa via medsos seolah
cukup menggantikan layatan fisik.
Jangan sampai suatu saat nanti,
anak kita memandikan jenazah kita secara virtual, mengafani virtual dan
memakamkan virtual. Sementara jenazah kita membusuk di kasur.
Semoga kita dimampukan meneladani khidmat para ulama terdahulu.. aamiin..
Komentar
Posting Komentar